Pages Navigation Menu

BOLEHKAH WANITA HAIDH MEMBACA AL QURAN?

BOLEHKAH WANITA HAIDH MEMBACA AL QURAN?

 

Al qur’an adalah pedoman hidup bagi seorang muslim. Ia adalah mukjizat abadi yang menantang para ahli sastra arab. Membacanya akan mendapatkan pahala seperti yang telah Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam sabdakan dalam sebuah haditsnya:

عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ)) رواه الترميذي.

Dari Abdullah ibn Mas’ud ia berkata, Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barang siapa yang membaca satu huruf dari al qur’an maka baginya kebaikan, dan kebaikan itu digandakan menjadi sepuluh, aku tidak mengatakan الم huruf, akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” Hr. At-Tirmidzi

Selain berpahala, membacanya juga menenangkan hati dan menyembuhkan sakit. Sebagai seorang muslim maka ia tak akan pernah terlepas hari-harinya dari al qur’an. Terlebih bagi seorang penghafal al qur’an maka setiap waktunya selalu wajib bersama al qur’an.

Bagi seorang laki-laki membaca al qur’an bisa dilakukan setiap hari. Namun beda halnya dengan seorang perempuan yang mengalami haidh setiap bulannya. Terus bagaimanakah sebenarnya pendapat para ulama tentang masalah ini? Bolehkah seorang perempuan haidh membaca al qur’an? Mari kita simak perkataan imam-imam madzhab dalam masalah ini.

  1. Pendapat beberapa imam madzhab Hanafi

Imam As-Sarakhsi menulis dalam kitabnya Al-Mabsuth, “Bahwa seorang wanita yang haidh tidak boleh membaca al qur’an…dan dalil kami adalah hadits Ibn Umar sebagai berikut:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ))لَا تَقْرَأِ الحَائِضُ، وَلَا الجُنُبُ شَيْئًا مِنَ القُرْآنِ((

Dari ibn Umar radhiyallahuanhu dari Nabi sholallahualaihi wasallam bersabda, “Janganlah seorang wanita haidh dan seorang yang junub membaca sesuatu dari al qur’an.”(HR. Tirmidzi)

Disebutkan pula imam At-Thahawi rahimahullah berkata bahwa dilarang membaca satu ayat dengan sempurna dan tidak dilarang membaca sebagian ayat. Kemudian imam Al-Karokhi rohimahullah berkata, “Dilarang membaca sebagian ayat apabila diniatkan membaca al qur’an seperti halnya larangan membaca satu ayat sempurna.” Dan dalil dari perkataan imam At-Thahawi rahimahullah adalah bahwa al qur’an itu terpaut dengan dua hukum yaitu bolehnya membaca ketika sholat dan larangan membacanya bagi wanita yang haidh, kemudian dalam salah satu di antara dua hukum itu (bacaan al qur’an dalam sholat dan bacaan qur’an wanita haidh) dijelaskan secara rinci perbedaan hukum antara satu ayat dan sebagian ayat.[1]

Penjelasan: Maksudnya adalah apabila seseoang tidak boleh hanya membaca sebagian ayat dalam sholat maka seorang wanita haidh boleh membaca sebagian ayat. Berlaku pula sebaliknya apabila seorang boleh membaca satu ayat atau lebih dalam sholat maka bagi wanita haidh tidak boleh membacanya. Karena membaca sebagian ayat tidak disebut membaca al qur’an.

Imam Ibnu ‘Abidin menjelaskan dalam Rad al Muhtar ‘ala Ad-Dur Al-Mukhtar bahwa dilarang membaca al qur’an meskipun kurang dari satu ayat jika itu dibaca dengan bersambung. Namun jika dibaca dengan kata-perkata maka diperbolehkan. Begitu pula bagi para pengajar boleh mengajarkannya kata demi kata.

Dan dibolehkan pula membaca surat al fatihah dengan maksud membaca doa, begitu pula untuk ayat-ayat lain yang terkandung makna doa. Dan dapat dipahami bahwa tidak boleh membaca ayat atau surah yang di sana tidak mengandung makna doa semisal surah al masad.[2]

  1. Perkataan beberapa imam madzhab Maliki

Kata imam al-Qurafi dalam kitab yang ditulisnya bahwa bolehnya wanita haidh membaca al qur’an karena telah diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahuanha bahwa dia pernah membaca al qur’an ketika sedang haidh sementara dengan jelas Nabi mengetahuinya.[3]

Disebutkan imam Ibn Rusyd rahimahullah berpendapat bahwa hukum junub itu lebih tinggi dibandingkan dengan hukum haidh, maka bagi wanita haidh diperbolehkan untuk membaca al qur’an meskipun mereka belum mandi.[4]

Maksud dari hukum junub lebih tinggi di sini adalah bahwa terdapat perbedaan antara junub dan haid yaitu yang pertama adalah junub itu diakibatkan karena sebuah perbuatan yang dilakukan (jima’) sedangkan haidh tidak, dan yang kedua adalah masa junub pendek sedangkan masa haidh lebih lama.

Imam Ad-Dasuki rahimahullah menuliskan apa yang dikatakan oleh Abdul Haq bahwa apabila seorang wanita yang telah berhenti dari haidh tidak boleh membaca al qur’an sampai ia telah bersuci entah ia junub atau pun tidak.[5]

  1. Perkataan imam madzhab Syafi’i

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitab al-Majmu’ syarh al-muhadzzab dalam madzhab-madzhab ulama dalam persoalan seorang wanita haidh membaca al qur’an, “Telah kami sebutkan bahwa pandangan madzhab kami (syafi’i) yang masyhur adalah mengharamkannya dan itu diriwayatkan dari Umar, Ali, Jabir rodhiyallahu ‘anhum begitu pula kata Al Hasan al Bashri, Qotadah, ‘Atha, Abu al-‘Aliyah, an-Nukha’i, Sa’id, az Zuhri, Ishaq, Abu Tsaur, sementara Malik, Abu Hanifah, dan Ahmad terdapat dua riwayat yaitu mengharamkan dan membolehkan begitu pula kata Dawud. Dan yang membolehkan berdalil dengan apa yang diriwayatkan oleh Aisyah rodhiyallahu ‘anha bahwa ia membaca al qur’an dalam keadaan haidh. Juga karena lamanya waktu perempuan yang haidh dan ditakutkan lupa hafalannya. Dan dalil kami (yang mengharamkan) adalah hadits Ibn Umar akan tetapi haditsnya dhaif, dan juga qiyasan terhadap orang yang junub. Maka bagi yang tidak menerima hadits dhaif tersebut sebagai dalil ia setuju qiyas wanita haidh dengan junub kecuali Dawud. Dan bagi orang-orang yang ahli ushul tidak menganggap Dawud dalam ijma’ juga khilaf.  Perbuatan Aisyah rodhiyallahu ‘anha sendiri tidak sah menjadi dalil meskipun haditsnya shahih karena shahabat selain Aisyah bertentangan dengannya, dan apabila para shahabat bertentangan maka kita kembali kepada qiyas.

Sedangkan kekhawatiran akan lupa hafalannya maka itu jarang terjadi karena lama waktu haidh rata-rata adalah enam hari atau tujuh hari, dan tidaklah akan lupa jika hanya selama itu dan kekhawatiran akan lupa hafalan datap ditanggulangi dengan membaca al qur’an dalam hati.”[6]

  1. Perkataan imam madzhab Hanbali

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menuliskan dalam al Mughni, “Dan tidak boleh membaca al qur’an orang yang junub, haidh, dan nifas. Diriwayatkan kemakruhannya dari Umar, Ali, al Hasan, an Nukho’i,az Zuhri, Qotadah, Syafi’i, dan Hanafiyah. Dan imam al Auza’i berkata tidak boleh membaca ayat kecuali doa naik kendaraan

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ

dan turun dari kendaraan.

رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ

Dan diharamkan bagi mereka membaca satu ayat, dan apabila ayat itu tidak bisa dibedakan dengan yang lainnya seperti membaca basmalah, hamdalah, dan dzikir-dzikir yang lain yang tidak dimaksudkan membaca al qur’an maka diperbolehkan. Tidak ada perbedaan bahwa semua itu adalah dzikir, mereka membaca basmalah ketika mau mandi dan semua itu tidak mungkin dapat dihindari.”[7]

Kesimpulan:

Dari perkataan para ulama empat madzhab tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Secara garis besar ada dua pendapat para ulama yaitu sebagian melarang wanita haidh membaca al qur’an dan yang lain membolehkan.
  2. Yang melarang wanita haidh adalah madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hanbali. Sedangkan yang membolehkan adalah madzhab Maliki.
  3. Dalam madzhab Hanafi seorang wanita haid tidak boleh membaca al qur’an kecuali apabila membaca sebagian ayat yang tidak sempurna. Dan juga boleh membaca dengan mengeja setiap kata.
  4. Madzhab Syafi’i membolehkan wanita membaca al qur’an dalam hati apabila ditakutkan lupa hafalannya.
  5. Dalam madzhab Maliki seorang wanita haidh diperbolehkan membaca al qur’an.
  6. Tidak ada perbedaan ulama dalam persoalan wanita haidh membaca dzikir.

Wallau a’lam bisshowab

[1] . Al-Mabsuth, As-Sarakhsi, (3/152)

[2] .  Rad al-Muhtar ‘ala Ad-Dur Al-Mukhtar, Ibn ‘Abidin, (1/293)

[3] . Ad-Dakhirah, Al-Qurafi, (1/379)

[4] . At-Taj wa al-iklil, Al-Abdari, (1/551)

[5] . Hasyiyatu ad dasuki ‘ala syarh al kabir, Ad-Dasuki, (1/174)

[6] . al-Majmu’ syarh al-muhadzzab, an-Nawawi, (2/357)

[7] . al-Mughni, Ibnu Qudamah, (1/106)

 

Oleh Kharis El Grabagy

Alumni Pondok Pesantren Al-Itishom, Grabag

Mahasiswa Jurusan Syariah, LIPIA, Jakarta

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *