Pages Navigation Menu

Heraclius dan Pengakuannya Terhadap Kenabian Muhammad SAW

Heraclius dan Pengakuannya Terhadap Kenabian Muhammad SAW

Bismillah, Alhamdulillah wa sholaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ‘ajma’iin. Wa ba’du:

Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan-Nya yang ditugaskan untuk mendakwahkan tauhid dan menghapuskan segala bentuk kesyirikan di muka bumi. Berbagai macam metode diterapkan dalam dakwahnya agar cahaya tauhid bersinar di setiap penjuru. Dan salah satu metode yang diterapkan oleh Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam adalah menulis surat untuk para raja, pembesar, juga pemimpin di negeri lain, yang isinya adalah ajakan untuk masuk dien islam.

Maka Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wa sallam menyurati para raja di zamannya. Mengajak ke jalan yang benar serta berkisah tentang keindahan islam dan ajarannya. Dari mereka ada yang tersentuh hatinya, dibukakan dadanya untuk menerima ajaran islam dan kemudian masuk islam seperti raja Habasyah[1], An-Najasyi. Ada juga yang malah bertambah keras dan garang permusuhannya terhadap islam seperti Kisra sang raja Perisa. Lain lagi dengan sang kaisar Romawi timur, Heraclius, ia mengakui kenabian Muhammad sholallahu ‘alaihi wa sallam tapi hidayah tak datang kepadanya. Dan pada kesempatan kali ini mari kita simak sedikit kisah yang  juga disebutkan dalam salah satu hadits dalam kitab Shahih al-Bukhari ini.

Heraclius bernama lengkap Flavius Heraclius Agustus, dia adalah sang kaisar Bizantium atau Romawi timur antara akhir tahun 610 Masehi sampai awal tahun 641 Masehi. Heraclius dinobatkan menjadi kaisar Bizantium pada 5 Oktober 610 Masehi setelah berhasil melengserkan kaisar sebelumnya.[2]

Suatu ketika sampailah surat dari Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wa sallam kepada Heraclius yang dibawa oleh seorang shahabat bernama Dihyah al-Kalbi radhiyallahu ‘anhu. Waktu itu ia sedang berada di Syam. Maka ia bertanya kepada orang-orang yang lalu-lalang di dareah itu, “Adakah di sini seseorang dari kaum orang ini (Muhammad sholallahu ‘alaihi wa sallam) yang mengaku dirinya sebagai nabi?”

“Ya!” jawab suatu kaum yang ternyata kaum itu adalah rombongan pedagang kaum Quraish yang kebetulan sedang di Syam. Maka rombongan pedagang itu diundang oleh sang kaisar untuk menghadapnya. Kemudian mereka dipersilahkan duduk di hadapannya dan berbincang-bincang.

“Siapakah di antara kalian yang paling dekat kekerabatannya dengan orang yang mengaku nabi itu?” Tanya sang kaisar kepada mereka.

“Saya wahai kaisar!” kata salah satu dari mereka. Dan ia adalah Abu Sufyan yang saat itu belum masuk islam. Akhirnya sang kaisar meminta penerjemahnya agar Abu Sufyan duduk di depannya sementara teman-temannya duduk di belakangnya. Dan memerintahkan apabila Abu Sufyan berbohong maka mereka harus mengatakan bahwa Abu Sufyan berbohong.

Berkata Abu Sufyan,”Seandainya jika aku tidak merasa malu kepada para sahabatku, niscaya aku akan berbohong tentangnya (Muhammad).”

“Apakah diantara leluhurnya ada yang menjadi seorang raja?” tanya kaisar melalui penerjemahnya.

“Tidak,” jawab Abu Sufyan.

“Apakah ada yang mengatakan perkataan seperti yang ia katakan sebelumnya?”

“Tidak,” jawabnya lagi.

“Apakah dia termasuk orang yang terpandang di antara kalian?”

“Benar.”

“Apakah kalian pernah menuduh ia berdusta sebelum mengatakan dia adalah nabi?”

“Tidak wahai kaisar, kami tidak pernah mendapatinya berdusta sekalipun.”

“Apakah pengikutnya dari rakyat kecil ataukah dari para pembesar?”

“Pengikutnya adalah rakyat kecil.”

“Dan apakah pengikutnya bertambah atau malah berkurang?”

“Pengikutnya selalu bertambah.”

“Adakah dari pengikutnya ada yang keluar karena kebencian setelah masuk dalam ajarannya?”

“Tidak.”

“Apakah kalian pernah memeranginya?”

“Betul.”

“Dan bagaimanakah peperangan kalian melawannya?”

“Mereka menang melawan kami di satu kesempatan, dan di kesempatan yang lain kami yang menang.”

“Apakah dia seorang yang suka berkhianat?”

“Tidak, dia bukan orang yang suka berkhianat.”

“Terus apa yang ia perintahkan dalam ajarannya kepada kalian?”

“Ajarannya memerintahkan kami untuk hanya menyembah Allah tanpa menyekutukannya, dan melarang kami untuk tidak menyembah apa-apa yang disembah nenek moyang kami juga memerintahkan kami untuk mendirikan sholat dan berkata jujur juga berkata dan berbuat yang baik-baik serta menyambung silaturahim.”

Begitulah pertanyaan-pertanyaan sang kaisar Heraclius kepada Abu Sufyan yang dijawabnya dengan jujur. Dan kemudian sang kaisar melalui penerjemahnya menjelaskan bahwa di dalam pertanyaan-pertanyaan yang telah dipaparkan terdapat pertanda.

“Aku menanyakan tentang nenek moyangnya apakah salah satunya adalah raja? Dan kalian menjawab tidak, apabila salah satu nenek moyangnya adalah raja maka aku akan mengatakan bahwa ia adalah seorang lelaki yang ingin menuntut kerajaan nenek moyangnya…

“Kemudian aku bertanya apakah sebelumnya ada seorang yang perkataannya sama dengan apa yang ia ucapkan? Kalian pun menjawab tidak, apabila ada seorang yang pernah mengatakan hal yang sama sebelumnya maka aku akan mengatakan ia adalah seorang lelaki yang mengikuti perkataan orang terdahulu….

“Dan aku pun bertanya apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum ia menyampaikan ajarannya tersebut? jawaban kalian tidak. Aku telah mengetahui bahwa ia (rasul itu) tidak akan melakukan kedustaan kepada manusia kemudian pergi dan berdusta kepada Allah…

“Aku pun bertanya lagi apakah rakyat jelata yang menjadi pengikutnya ataukah para pembesar? Dan kalian menjawab bahwa pengikutnya adalah rakyat jelata, dan memang merekalah para pengikut rasul-rasul di awal-awal dakwahnya…

“Kemudian apakah pengikutnya semakin bertambah atau berkurang? Dan ternyata kalian menjawab pengikutnya semakin bertambah. Ya memang seperti itulah keimanan akan semakin bertambah hingga sempurna…

“Apakah ada seorang yang keluar dari ajarannya karena kebencian setelah memasukinya? Itulah pertanyaanku dan kalian menjawab tidak ada. Dan seperti itulah keimanan apabila cahayanya telah merasuk kedalam hati maka tidak ada rasa benci padanya…

“Dan aku pun bertanya tentang peperangan kalian melawannya, kalian pun memaparkan bahwa kadang menang kadang kalah, dan begitulah para rasul kadang diuji dengan kekalahan…

“Kemudian tentang ajarannya kalian menjawab bahwa ajarannya memerintahkan untuk menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dan memerintahkan untuk mendirikan sholat, menunaikan zakat, berkata jujur, bersikap baik, serta menyambung silaturrahim dan melarang kalian menyembah apa yang nenek moyang kalian sembah, itulah sifat seorang nabi…

“Apabila yang kalian katakan tentangnya itu adalah benar, maka dia adalah seorang nabi. Dan sebenarnya aku telah mengetahui bahwa ia sudah keluar, tapi aku tak menyangka bahwa dia dari kaum kalian. Seandainya memungkinkan aku sangat ingin menjumpainya, dan ketika aku didekatnya akan aku basuh kedua kakinya. Sungguh ia akan menempati tempat di mana kini aku berpijak.”

Kemudian sang kaisar membawa surat dari nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wa sallam dan membacakannya,

بسم الله الرحمن الرحيم من محمد رسول الله إلى هرقل عظيم الروم، سلام على من اتبع الهدى، أما بعد: فإني أدعوك بدعاية الإسلام، أسلم تسلم، وأسلم يؤتك الله أجرك مرتين، فإن توليت فإن عليك إثم الأريسيين، و: قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, dari Muhammad utusan Allah kepada Heraclius penguasa romawi. Keselamatan atas siapa saja yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du:

Saya mengajak anda memeluk islam, masuk lah islam maka anda akan selamat, dan masuklah islam maka Allah akan memberikan pahala kepada anda dua kali lipat, dan jika anda berpaling maka bagi anda dosa seluruh kaum arisiyyin dan Katakanlah: “Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (Ali Imran: 64)”

Setelah sang kaisar membacakan surat tersebut suara-suara menjadi riuh kepadanya. Dan rombongan quraish pun diminta untuk keluar. Maka setelah itu para rombongan orang quraish tersebut undur diri dari hadapan kaisar romawi. Berkatalah Abu Sufyan kepada para teman-temannya ketika mereka keluar, “Telah semakin besar persoalan Ibnu Abi Kabsyah[3], ia telah membuat takut sang kaisar romawi, dan aku begitu yakin bahwa perkara kenabiannya akan semakin nampak, sampai Allah  memasukan islam ke dalam dadaku.”

Begitulah kisah sang kaisar romawi yang mengetahui tentang kebenaran namun hidayah tak datang padanya, karena Allah memberi hidayah kepada siapa yang Ia kehendaki.

Wallahu a’lam bi showab

Sumber:

  1. Shahih Al-Bukhari hadits no.4553
  2. Syarh al-aqidah at-thahawiyah, Ibn Abi Al-‘Izzi al Hanafi, 1/ 245-252

[1] Sekarang negara Ethiopia

[2] https://id.m.wikipedia.org/wiki/Heraklius

[3] Yang dimaksud dengan Ibnu Abi Kabsyah adalah Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wa sallam, karena Abu Kabsyah adalah salah satu dari kakeknya. Dan kebiasaan orang arab ketika merendahkan seseorang maka ia akan memanggil seorang tersebut dengan menisbatkan nama kakeknya yang tidak terkenal.

 

Oleh Kharis El Grabagy

Alumni Pondok Pesantren Al-Itishom, Grabag

Mahasiswa Jurusan Syariah, LIPIA, Jakarta

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *