Pages Navigation Menu

Hakikat Cinta Kepada Alloh

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, yang Maha Esa dan Maha berdiri sendiri. Tidaklah kami meminta pertolongan dan hidayah kecuali kepada-Nya semata, serta memohon ampunan-Nya. Kami berlindung dari kejahatan diri dan keburukan amal-amal kami. Sesungguhnya barang siapa yang Alloh beri petunjuk maka ia mendapat petunjuk itu, dan barang siapa yang disesatkan oleh-Nya, maka tidak ada baginya pertolongan atau pun pemberi petunjuk.

Dan kami juga bersaksi bahwa Nabi Muhammad shollallohualaihi wa sallam adalah hamba dan rasul-Nya, hamba pilihan dan kekasih-Nya serta penutup para nabi dan rasul. Orang terbaik yang telah menyampaikan wahyu dari Rabb-nya kepada umatnya. Ammaa ba’du

Para pembaca yang dirahmati Alloh ‘Azza wa jalla

Cinta terkadang membutakan, melalaikan apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang, seperti cinta akan harta yang mana harta adalah hiasan kehidupan dunia. Akan tetapi cinta kepada Alloh ta’ala adalah cinta yang haqiqi, cinta yang tidak menjerumuskan seseorang ke dalam keburukan. Dengan cinta pada-Nya kehidupan terasa indah nan tentram, beribadah dengan khusyu’ dan muamalah pun semakin bermakna.

Lantas, apa itu cinta? Mungkin cinta memiliki sejuta makna.  Namun, cinta kepada Alloh ta’ala adalah bentuk salah satu ibadah kepada-Nya. Cinta tak mengenal usia, waktu maupun tempat. Kapan dan di mana seseorang cinta kepada-Nya maka Alloh akan mencintainya pula.

Syaikh Abdulloh bin Ahmad al Huwaili menjelaskan bahwa di dalam ibadah terdapat tiga rukun utama diataranya: cinta, takut, dan harap[1]. Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin rahimahulloh menjelaskan dalam kitabnya al qoul al mufid bahwa beribadah kepada Alloh ta’ala berdasarkan atas cinta kepada-Nya dan inilah hakikat ibadah, dan jika beribadah tanpa cinta maka ibadahnya kurang sempurna, tidak ada ruh di dalamnya. Dan jika seseorang di dalam hatinya terdapat cinta kepada-Nya dan memiliki keinginan kuat untuk masuk surga-Nya maka ia akan berusaha untuk meraih keinginannya itu[2].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahulloh mengatakan[3], “Bentuk cinta kepada Alloh adalah ittiba’ur Rosul (mengikuti sunnah Nabi shollallohu alaihi wa sallam), sebagaimana firman Alloh subhanahu wa ta’ala:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran: 31)

 

Macam-macam cinta

Syaikh Abdulloh bin Ahmad al Huwaili menjelaskan bahwa cinta terbagi menjadi empat macam, diantaranya sebagai berikut:[4]

  1. Ibadah

Cinta yang termasuk ibadah adalah cinta kepada Alloh dan cinta kepada apa yang dicintai oleh Alloh ta’ala. Sebagaimana firman-Nya:

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

Artinya: “Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al baqarah: 165)

  1. Syirik

Maksud syirik di sini adalah mencintai selain Alloh sehingga tunduk padanya dan mengagungkannya, padahal bentuk ketundukan hamba dan pengagungan tiada yang layak baginya kecuali Alloh ta’ala. Sebagaimana firman-Nya:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ

Artinya: “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.” (QS Al baqarah: 165)

  1. Maksiat

Yaitu cinta akan melakukan kemaksiatan, perkara-perkara bid’ah dan perkara-perkara lainya yang diharamkan. Sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang Amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. An Nur: 19)

  1. Tabiat manusia

Setiap orang pasti mempunyai perasaan suka, senang atau cinta seperti cinta kepada anak, keluarga dan pada diri sendiri, ini adalah perkara yang diperbolehkan, selama cinta itu tidak melebihi cintanya kepada Alloh. Alloh ‘azza wa jalla berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

Sedangkan Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin rahimahulloh menjelaskan bahwa cinta terbagi menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut:

  1. Cinta karena beribadah

Yaitu bentuk ketundukan dan pengagungan kepada Rabb semesta alam, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tidaklah mecintai sesuatu melebihi cintanya kepada-Nya dan tidaklah juga mengagungkan sesuatu melebihi pengagungan kepada-Nya.

  1. Cinta bukan karena beribadah

Pada poin ini terbagi menjadi empat macam, antara lain:

  1. Cinta karena Alloh yaitu cinta kepada para Nabi, Rosul, orang-orang jujur, dan sholih karena Alloh ‘Azza wa jalla. Atau cinta melakukan hal-hal yang baik seperti shodaqoh, sholat, dzikir dan lain sebagainya. Bentuk cinta ini tidak jauh beda dengan poin pertama.
  2. Cinta kasih sayang yaitu cinta dan sayang kepada anak, orang-orang miskin dan lemah, dan kasih sayang terhadap orang sakit.
  3. Cinta karena penghormatan yaitu cintanya seseorang terhadap orang tua dan gurunya, atau cintanya seseorang terhadap orang-orang baik.
  4. Cinta karena tabiat manusia yaitu cinta atau suka makanan, pakaian, kendaraan, rumah dan lain-lain.

Syaikh Ibnu al Utsaimin rahimahulloh mengatakan, “Dari macam-macam cinta di atas yang paling mulia adalah cinta karena bentuk beribadah kepada Alloh ta’ala adapun sisanya hanya bersifat boleh. Akan tetapi jika pada poin kedua tersebut diniatkan karena beribadah maka termasuk ibadah dan akan mendapatkan pahala. Seperti cinta kepada orang tua dengan niat beribadah kepada Alloh, berbuat baik kepada orang tua merupakan bentuk taat pada-Nya.”[5]

Setiap amal jika diniatkan karena ibadah maka termasuk ibadah, dalam hadits Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab radhiyallohu ‘anhu

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِيءٍ مَا نَوَى, فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ (متفق عليه)

Artinya: “Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan. Barang siapa hijrahnya menuju kepada Alloh dan Rosul-Nya maka hijarahnya itu menuju kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya menuju dunia akan diperolehnya atau wanita yang ingin dinikahinya maka ia akan mendapatkan apa yang dituju.”[6] (Muttafaq ‘alaihi)

Wa Allohu a’lam bisshowab…

 

[1] At tauhid al muyassar karya Abdulloh bin Ahmad al Huwaili, hal. 53

[2] Al qoul al mufid ‘ala kitab at tauhid karya Syekh Muhammad bin Sholih al Utsaimin, hal. 398

[3] Az zuhd wal wara’ wal ibadah karya Syeikhul islam Ibnu Taimiyah, hal. 49

[4] At tauhid al muyassar karya Abdulloh bin Ahmad al Huwaili, hal. 56

[5] Al qoul al mufid karya Syekh Muhammad bin Sholih al Utsaimin, hal. 399

[6] Al arba’in an nawawiyah karya Imam Yahya bin Syarof an nawawi, No. 1

 

Ditulis oleh Muchlisin ibn Zaenuri

Alumni Pondok Pesantren Al-Itishom, Grabag

Mahasiswa Jurusan Syariah, LIPIA, Jakarta

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *