Mengenal Sholat Witir (Bag. 1)

Author: No Comments Share:

Bismillah, Alhamdulillah wa sholaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ‘ajma’iin. Wa ba’du:

Sebelum mengenal permasalahan-permasalahan hukum yang berhubungan dengan sholat witir maka sebagai mukadimah, perlu kita ketahui definisi witir secara etimologi (bahasa) maupun istilah dalam syar’i. Witir menurut bahasa adalah sesuatu yang ganjil, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Alloh ta’ala itu ganjil (hanya satu) dan menyukai yang ganjil” (HR. Bukhori dan Muslim).

Sedangkan menurut istilah adalah sholat dengan jumlah rakaat yang ganjil dan dikerjakan mulai dari setelah isya sampai terbit fajar atau adzan subuh, ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha berkata, “Pada setiap malam Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam selalu sholat witir dan berakhir hingga waktu sahur.” (Muttafaqun alaih).

Dan di riwayat lain Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan waktu sholat witir dan  keutamaannya yaitu lebih baik dari pada unta merah, hadits dari Kharijah bin Hudzafah rodhiyallohu ‘anhu bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اَللَّهَ أَمَدَّكُمْ بِصَلَاةٍ هِيَ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ حُمُرِ اَلنَّعَمِ قُلْنَا: وَمَا هِيَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ ? قَالَ: ((اَلْوِتْرُ , مَا بَيْنَ صَلَاةِ اَلْعِشَاءِ إِلَى طُلُوعِ اَلْفَجْرِ))

Artinya: “Sesungguhnya Alloh membantumu dengan sholat yang mana lebih baik bagimu dari pada unta merah.” Kami bertanya, “Sholat apa itu ya Rosulalloh?” Beliau menjawab, “Sholat witir yaitu antara sholat isya’ sampai terbitnya fajar.” (HR. Imam Lima kecuali Imam an Nasaai (Imam at Tirmidzi, Abu dawud, Ibnu majah dan Imam Ahmad), dan hadits ini shohih menurut Hakim).

Melakukan sholat witir adalah salah satu upaya memperbanyak sujud maka dengan banyaknya bersujud kepada Alloh ta’ala Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam pun mendoakan agar dapat menyertainya di surga nanti. Sebagaimana dalam hadits Rabi’ah bin Ka’b al Aslami rodhiyallohu ‘anhu yang berbunyi,

عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ كَعْبٍ الْأَسْلَمِيِّ -رِضَى اَللَّهُ عَنْهُ- قَالَ: – قَالَ لِي اَلنَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – سَلْ. فَقُلْتُ: أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي اَلْجَنَّةِ. فَقَالَ: أَوَغَيْرَ ذَلِكَ ? , قُلْتُ: هُوَ ذَاكَ , قَالَ: ” فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ اَلسُّجُودِ

Artinya: Dari Rabi’ah bin Ka’b al Aslami rodhiyallohu ‘anhu berkata, Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku, “Mintalah.” Maka aku mengatakan, “Aku memohon dapat  menyertaimu di surga.” Lalu bertanya, “Adakah yang lain?” Aku menjawab, hanya itu saja. Maka Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maka bantulah aku untuk mendoakanmu dengan memperbanyak sujud.” (HR. Muslim)

Maka dari itu, mari bertamasya untuk mengenalnya lebih dalam, dari segi hukumnya ataupun sifat-sifatnya dan hal-hal yang menyangkut dengannya, oleh karena itu, al Qadhi Ibnu Rusydi dalam kitabya Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid mengatakan bahwa Ulama berselisih pendapat dalam lima perkara mengenai sholat witir diantarnya hukum sholat witir, sifat-sifatnya, waktunya, qunut atau tidaknya dan tentang perkara apakah diperbolehkan sholat witir di atas kendaraan?[1] Dalam bagian ini penulis akan memaparkan tentang hukum sholat witir.

Adapun mengenai hukum sholat witir terdapat dua pendapat diantaranya sebagai berikut:

  1. Wajib

 Imam Abu Hanifah rahimahulloh mengambil pendapat ini, dan Beliau mengatakan bahwa sholat witir termasuk wajib sebagaimana hukum sholat fardhu.[2] Dan Beliau sendiri yang mengambil pendapat ini sampai Ibnu al Mundzir mengatakan: “Dan Aku tidak melihat seseorang yang sependapat dengan Abu Hanifah.[3]

Di dalam kitab Tuhfah Al fuqoha yang ditulis oleh Abu Bakr ‘ilaauddin As samarqindy dijelaskan bahwa terdapat beberapa riwayat Imam Abu Hanifah mengenai wajibnya sholat witir atau kesunnahannya, semula Zufar mengambil riwayat yang mengatakan witir itu fardhu, namun belakangan ia menarik kembali pendapatnya dan mengatakan witir itu sunnah, dan semula Abu Yusuf dan Muhammad setuju bahwa witir itu sunnah, namun belakangan Abu yusuf menarik kembali pendapatnya dan mengatakan bahwa witir itu wajib.  Sebab menurutnya, fardhu adalah hukum yang kewajibannya harus ditetapkan dengan dalil yang pasti. Sementara wajib ialah hukum yang kewajibannya ditetapkan dengan dalil yang menyerupai hadits ahad dan qiyas, dari segi ini witir ditetapkan berdasarkan hadits ahad.[4]

Dalam hal ini Imam Abu hanifah membedakan antara fardhu dan wajib, sehingga Beliau rahimahulloh menghukumi sholat witir adalah wajib sedangkan yang fardhu adalah seperti sholat lima waktu.

Dan ulama Hanafiyah mengatakan: “Sesungguhnya witir itu wajib hukumnya, telah diketahui bahwa wajib lebih rendah dari pada fardhu seperti yang diyakini bahwa meninggalkan kewajiban tidaklah menyebabkan seseorang tertimpa adzab di akhirat kelak, melainkan yang meninggalkan kewajiban tidak mendapatkan syafa’at Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam. Maka cukuplah akibatnya bagi orang-orang mukmin yang mengharapkan syafaatnya. Namun, barang siapa yang meninggalkan fardhu maka baginya adzab di akhirat.”[5]

Adapun dalil-dalilnya yang menurutnya wajib adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ – رضي الله عنه – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: ((أَوْتِرُوا قَبْلَ أَنْ تُصْبِحُوا))

Artinya: Dari Abu Said al Khudzri radhiyallohu ‘anhu bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berwitirlah kalian sebelum masuk pagi.” (HR. Muslim 754)

Dalam hadits tersebut terdapat kata perintah, secara dhohir (lahiriyah) bahwa kata perintah menandakan kewajiban berdasarkan kaidah ushul al ashlu fil amri lilwujuub artinya asal dari kata perintah menandakan wajibnya sesuatu.

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ , عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم : ((اَلْوِتْرُ حَقٌّ, فَمَنْ لَمْ يُوتِرْ فَلَيْسَ مِنَّا))

Artinya: Dari Abdulloh bin Buraidah, dari ayahnya berkata: “Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, Witir adalah hak, maka barang siapa yang tidak sholat witir ia bukanlah termasuk golongan kami.” (HR. Abu Daud dengan sanad yang lemah namun di-shohihkan oleh Hakim)

Sanadnya lemah karena terdapat perawi yaitu Abdulloh bin Abdulloh at ‘Attaki sehingga Imam Bukhari dan Nasa’i melemahkannya, sedangkan menurut Hakim shohih. Dan menurut Ibnu Mu’in hadits ini adalah mauquf. Dari riwayat Abu Hurairah juga lemah menurut Imam Ahmad karena terdapat perawi yaitu al Khalil bin Murroh beliau adalah munkar hadits (tidak terpercaya dan jujur) dan begitu juga sanadnya terputus.[6]

وَعَنْ أَبِي أَيُّوبَ اَلْأَنْصَارِيِّ – رضي الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: ((اَلْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ))

Artinya: Dan dari Abu Ayyub al Anshori radhiyallohu ‘anhu bahwa sesungguhnya Rosulloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Witir itu hak bagi setiap muslim.” (HR. Imam Empat (Imam Abu Daud, at Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah) kecuali Imam at Tirmidzi. Hadits ini shohih menurut Ibnu Hibban dan mauquf menurut Nasa’i). Hadits  Mauquf yaitu perkataan atau perbuatan yang disandarkan kepada sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam baik bersambung sanadnya kepada Nabi atau tidak bersambung.

Hadits diatas menandakan wajibnya sholat witir sebagaimana yang dipaparkan oleh Imam as Shon’ani dalam kitabnya Subulus Salam Sayrh Bulughul Maram.[7]

  1. Sunnah Muakkadah

 Mayoritas ahlu ilmi dari kalangan sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, para tabi’in dan ulama-ulama setelahnya bahkan sahabat-sahabat Abu Hanifah mengambil pendapat ini.[8]

Dalam kitab Al fiqh ‘ala Al madzahib Al arba’ah dikatakan bahwa ulama Malikiyah, Syafi’iyah dan ulama Hanabilah, mereka mengatakan sholat witir sunnah muakkadah.[9]

Dalil kami adalah sebagai berikut:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ – رضي الله عنه – قَالَ: ((لَيْسَ اَلْوِتْرُ بِحَتْمٍ كَهَيْئَةِ اَلْمَكْتُوبَةِ , وَلَكِنْ سُنَّةٌ سَنَّهَا رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -)) رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ

Artinya: Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallohu ‘anhu berkata, “Witir itu tidak wajib sebagaimana sholat fardhu, akan tetapi sunnah yang dilakukan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam.” (HR. An Nasa’i dan at Tirmidzi, menurutnya hadits hasan dan juga Hakim, menurutnya hadits yang shohih)

Riwayat lain yang dilafadzkan Imam Ibnu Majah dalam kitab sunannya, yang berbunyi,

عَنْ عَاصِمِ بْنِ ضَمْرَةَ السَّلُولِيِّ، قَالَ: قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: إِنَّ الْوِتْرَ لَيْسَ بِحَتْمٍ وَلَا كَصَلَاتِكُمُ الْمَكْتُوبَةِ، وَلَكِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْتَرَ ثُمَّ قَالَ: ((يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ أَوْتِرُوا؛ فَإِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ))

Artinya: Dari ‘Ashim bin Dhamrah as Saluli berkata bahwa Ali bin Abi Thalib berkata: “Sesungguhnya witir bukanlah wajib dan bukanlah pula seperti sholatmu yang fardhu, akan tetapi Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam melakukan sholat witir kemudian Beliau bersabda, “Wahai Ahli qur’an (orang-orang beriman) sholat witirlah kalian, karena sesungguhnya Alloh ta’ala itu ganjil dan menyukai yang ganjil.” (Sunan Ibnu Majah 1169)

Adapun hadits-hadits yang dijadikan dalil atas wajibnya witir, menurut mayoritas ulama bukan menandakan wajibnya witir melainkan sunnah muakkadah (sunnah yang pasti dan kuat, sunnah yang sangat dianjurkan). Al Majib bin Taimiyah menyebukan bahwa sesungguhnya Ibnu al Mundzir meriwayatkan hadits Abu Ayyub al Anshory dengan lafadz: “Witir itu hak dan bukanlah wajib.” Dan dengan hadits lain yang berbunyi: “Tiga rakaat fardhun atasku dan sunnah atasmu.” Maksudnya witir. Kalau misalkan haditsnya lemah itu terdapat kelanjutan yang butuh penguat. Hadits Abu Ayyub yang dibuat dalil wajibnya witir itu merupakan hadits mauquf menurut pendapat yang paling benar.”[10]

Ketika mendapati beberapa hadits yang bertentangan maka lebih utama melakukan pengelompokan hadits (madzabul jam’i), jika tidak memungkinkan maka mengutamakan salah satu hadits yang menurutnya paling shohih disebut juga madzab at tarjih, jika itu tidak memungkinkan lagi maka menetapkan hadits satu dan menghapus hadits lain yang disebut madzab nasikh wa mansukh. Jika itu semua tidak memungkinkan maka bersikap tawaquf (tidak menghukuminya atau diam). Yang paling utama adalah madzabul jam’i karena pengelompokan berbagai riwayat yang bertentangan.

Oleh kerena itu, mayoritas ulama menyimpulkan dengan metode pengelompokan hadits. Hadits yang terdapat kata perintah adalah menandakan kapastiannya sehingga disimpulkan bahwa hukumnya sunnah muakkadah.

Alasan-alasan mengapa mayoritas ulama menyimpulkan bahwa sholat witir bukanlah wajib, diantaranya sebagai berikut:

  1. Jika sholat witir itu wajib maka bertentangan dengan hadits yang mewajibkan sholat lima waktu, tidak tambah dan berkurang.

حديث طلحة بن عبيد الله في الرجل الذي جاء  يَسْأَلُ عَنِ الإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي اليَوْمِ وَاللَّيْلَةِ)) . فَقَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ: ((لاَ، إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ…))

Artinya: Hadits Tholhah bin Ubaidillah pada lekaki yang datang kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam yang menanyakan tentang islam. Maka Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam pun menjawab, “Sholat lima waktu sehari semalam.” Dan bertanya laki-laki tersebut: “Adakah yang lain?” Beliau ‘alaihissholatu wassallam menjawab, “Tidak ada, kecuali sholat-sholat sunnah…” (HR. Bukhari 46)

Abu al Abbas al Qurafi al Maliki mengatakan: “Sholat witir dalam madzab kami sunnah muakkadah, dan diriwayatkan oleh al Maziry dari Sahnun bahwa sholat witir wajib sebagaimana yang diambil Imam Abu Hanifah, dalil mereka adalah

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((إِنَّ اللَّهَ زَادَكُمْ صَلَاةً إِلَى صَلَوَاتِكُمُ الْخَمْسِ أَلَا وَهِيَ الْوِتْرُ))

Artinya: Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Alloh menambahkan sholat ke dalam sholat lima waktu yaitu sholat witir.”

Kata al Qurafi tambahan atas sesuatu harus berasal dari sejenisnya, maka untuk kami hadits tersebut tidak pasti dalam riwayat Muslim, karena sesungguhnya ketika Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam ditanya oleh laki-laki tentang islam, maka beliau menjawab, “Sholat lima waktu setiap hari semalam.” Dan ditanya lagi, “Apakah ada yang lain?” maka Beliau menjawab, “Tidak ada, kecuali sholat-sholat sunnah.” Dan laki-laki berkata, “Demi Alloh, tidaklah aku menambahi dan mengurangi.”  Nabi pun menjawab, “Telah beruntung jika jujur melakukannya…”[11]

Dan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam mengutus Mu’adz ke yaman untuk menyampaikan pesannya, salah satunya disebutkan bahwa sesungguhnya Alloh ta’ala mewajibkan atas mereka sholat lima waktu sehari semalam… (HR. Bukhari 1395 dan Muslim 19)

  1. Hadits yang dipakai Imam Abu Hanifah adalah hadits mauquf bahkan sebagian para ulama melemahkannya. Seperti haditsnya Abu Ayyub al Anshory yang menurutnya menandakan wajibnya witir. Akan tetapi makna “witir itu hak” adalah bukan kewajiban melainkan sunnah yang pasti atau sesuatu yang sangat dianjurkan.

Alloh a’lam bisshowab…

Sekiranya ini yang bisa penulis paparkan karena keterbatasan ilmu yang dimilki. Dan insya Alloh di part berikutnya akan membahas sifat-sifat sholat witir beserta perselisihan para ulama dari mulai tata caranya dan jumlah rakaatnya begitu juga sunnahnya dalam sholat witir.

[1] Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid karya Al imam Al qodhi Abu Walid Ibnu Rusdy, 1/351. Cet. Dar Ibnu hazm

[2] Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid karya Al imam Al qodhi Abu Walid Ibnu Rusdy, 1/164. Cet. Dar Ibnu hazm

[3] Shohih fiqhus sunnah karya Abu malik kamal bin as sayyid salim, 1/336. Cet. Dar At taufiqiyah litturost

[4] Tuhfah Al fuqoha karya Abu Bakr ‘ilaauddin As samarqindy, 1/201. Cet. Darul kutub al ‘ilmiah

[5] Kitab Al fiqh ‘ala Al madzahib Al arba’ah karya Syekh Abdurrahman al Jaziry, 1/304. Cet. Dar al kutub al ‘ilmiah

[6] Subulus Salam Al maushilah ilaa Bulughil Maram karya Muhammad bin Ismail al Amiir as Shon’ani, 2/31. Cet. Dar al ‘aashimah

[7] Subulus Salam Al maushilah ilaa Bulughil Maram karya Muhammad bin Ismail al Amiir as Shon’ani, 2/21. Cet. Dar al ‘aashimah

[8] Shohih Fiqhus Sunnah karya Abu malik kamal bin as sayyid salim, 1/337. Cet. Dar At taufiqiyah litturost

[9] Al fiqh ‘ala Al madzahib Al arba’ah karya Syekh Abdurrahman al Jaziry, 1/306-308. Cet. Dar al kutub al ‘ilmiah

[10] Subulus Salam Al maushilah ilaa Bulugh Al maram karya Muhammad bin Ismail al Amiir as Shon’ani, 2/22. Cet. Dar al ‘aashimah

[11] Ad dzakhiroh karya Abu al Abbas al Qurafi al Maliky, 2/392 cet. Dar al ghorbi al islami

 

Ditulis oleh Muchlisin ibn Zaenuri

Alumni Pondok Pesantren Al-Itishom, Grabag

Mahasiswa Jurusan Syariah, LIPIA, Jakarta

  Next Article

Hakikat Cinta Kepada Alloh

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *